Yuda Pernanda

Rabu, November 18, 2015

Jangan Percaya "Boss" Anda

Gue kerja di perusahaan distributor farmasi ternama di Indonesia. Sekitar 40% obat yang dijual di Apotek di Kota gue, sumbernya dari perusa... thumbnail 1 summary
Gue kerja di perusahaan distributor farmasi ternama di Indonesia. Sekitar 40% obat yang dijual di Apotek di Kota gue, sumbernya dari perusahaan gue. Kisah gue ini udah mirip orang yang lagi hamil. Udah sembilan bulan "Keluar" deh. Bedanya, kalo ibu hamil yang keluar itu bayi, nah kalo gue surat cinta dari perusahaan. Sompret bener.

Cerita berawal dari pihak Perusahaan pembuat obat (Kami sebut principal), pihak yang menjadi partner perusahaan untuk bisnis Farmasi. MedRep (Medical Representative / Sales) principal mendapat order dari dokter apakah bisa memesan obat tanpa melalui Apoteker, karena Dokter tidak bisa memesan obat langsung tanpa melalui Apoteker. 

Si MedRep (M) bilang ke Kacab (K) & Gue (G) Salesman(S):
M : "Boss, bisa bukain order untuk "Rs. Z" ngga? Ini Buat Dokter "G" Soal Pembayaran, 3 hari langsung Bayar".
K : "Loh, dr. G kan bukan praktek di Rs Z tapi di Rs L..!!"
M : "Iya, Dr G pesen langsung ke saya. Bisa bukain ngga?"
K : "Ngga bisa, kalo mau langsung bayar COD".
G : "Ya COD juga ngga bisa Pak, masalah SP(Surat Pesanan) asli & Pajak gimana?"
M : "Bro S, gimana nih. Salesnya lumayan nih" (Ngomporin Sales)
S : "Lu tanya aja sama yg input, Mau input ngga?"
G : "Ya ngga mau lah, ntar masalah. Ni SP juga palsu"
M : "Wih boss K, bantu dong. Biar Nyampe target nih dikit lagi"
K : "Udah gini aja, kamu input aja G, S juga udah tau dan saya sama M yang bertanggung jawab. Banyak Saksinya."

Singkat cerita, keesokan harinya barang dikirim. Kebetulan, AM (Area Manager) red: jabatan diatas Kacab dateng ke kantor. Pas pengirim barang dateng, disambut sama si M dengan suara lantang minta barang diturunin disitu. 

Padahal SOPnya, tidak boleh ada barang yang diturunkan tidak sesuai alamat Outlet yang memesan. Dengan polosnya M mengambil barang fiktif tersebut didepan AM. AM pun nanya dan sudah terbaca apa yang terjadi setelahnya. Dia ngamuk, langsung nyebut "Kamu saya SP" Red: Surat Peringatan, sambil mengomel ke Pengirim barang. 

Setelah itu, saya dipertanyakan dimana SP asli dari outlet. Karena memang fiktif, saya jelas tidak punya.

AM : "Kenapa kamu input padahal disini tidak ada stempel asli dari Outlet"
G    : "Mohon maaf sebelumnya, saya input berdasarkan rekomendasi dari M dan telah disetujui oleh pak K."
AM : "Betul K? kamu yang merilis orderan fiktif ini?"
K   : "Awalnya iya, tapi saya bilang tidak boleh karena SP aslinya belum ada"
G   : "Loh, kan Pak K sendiri yang bilang ini di ACC dan mau bertanggung jawab atas segala resiko"
K   : "Iya, saya sudah sampaikan ke MedRep tidak boleh diinput karena SP aslinya tidak ada"
G   : "Ngga ada pemberitahuan apa-apa ke saya Pak"
AM : "Ok, Kita bicarakan ini nanti setelah Sales pulang, sore nanti"


Setelah Sales pulang, kami disidang. Fakta bahwa MedRep tidak ikut dilibatkan karena dia adalah pihak perusahaan rekanan. Sebelum menanyakan ke pihak luar AM ingin mendapat penjelasan dari pihak dalam.

AM : "S, coba jelaskan dari sisi kamu, kenapa ada orderan fiktif?"
S     : "Saya melakukan ini atas persetujuan K dan M pak."
AM : "Semua bilang dari kamu K, coba jelasin."
K    : "Iya, saya sudah beritahu MedRep kalau orderan tersebut tidak bisa diproses, dan saya tidak tahu kalau SP tersebut tidak lengkap"
AM : "Ok, G dan S coba kamu bikin surat pernyataan kronologinya seperti apa, ttd diatas Materai, lalu kasih ke saya"
G & S : "Ok Pak"

Hari itu selesai tanpa omelan AM lagi. AM pun sudah pulang dari kunjungannya ke Cabang setelah pihak Principal / MedRep itu meminta maaf atas orderan fiktif dan mengaku bahwa mereka akan bertanggung jawab penuh terhadap sanksi apapun dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dua minggu setelah kejadian itu, tidak ada tanda-tanda surat cinta terbit dari lubuk hati perusahaan. Ternyata petaka terjadi di minggu ketiga, surat cinta muncul dan diberikan langsung oleh Bpk. AM. Saya mendapatkan SP 1, Pengirim barang 2 orang mendapat SP 2, dan S mendapat SP 3 dan yang mengagetkan kami, K tidak mendapat SP sama sekali yang justru dia yang ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Dia mengelak atas perbuatannya. Lucunya, AM percaya pada omongan K.

Protes sudah, bicara blak-bkan sudah dan tidak dipercaya. Saya belajar bahwa, jika atasan mengintruksikan hal diluar SOP, diabaikan saja dan jika memang terpaksa, harus ada bukti tertulis yang menyatakan bahwa dia yang bertanggung jawab.

Don't Trust Your "Boss"

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Komen Disini yaah