Yuda Pernanda

Rabu, November 18, 2015

Menghilangkan stress (How To Kill Stress)

Jika diistilahkan, hidup ini memang berwarna warni. Warna putih diibaratkan ketika hidup seseorang sedang bahagia, senang, dan menyenangkan... thumbnail 1 summary
Jika diistilahkan, hidup ini memang berwarna warni. Warna putih diibaratkan ketika hidup seseorang sedang bahagia, senang, dan menyenangkan karena warna dasar putih yang terang dan suci. Warna Hitam jelas sekali diibaratkan kehidupan yang sulit, banyak masalah, kesedihan dll. Merah, ketika sedang marah atau kesal. Biru, warna yang dingin identik dengan kesepian. dan masih banyak warna lain yang memang bukan arti sebenarnya dari warna itu sendiri.
Ketika warna putih, semua terasa mudah dan menyenangkan. Hidup penuh senyum dan tawa. Semua orang seperti sangat bersahabat dengan kita dan artikel ini tidak menarik jika saya menjelaskan bagaimana menyelesaikan suatu kesenangan karena memang kesenangan bukan untuk diselesaikan tetapi untuk dinikmati. Itulah sebabnya mengapa artikel tentang 'galau' lebih banyak dibuat dan dibaca oleh 'galawers'. 
Masalah, yang sering dihindari orang namun tak pernah ada yang sukses menghindarinya. Karena memang masalah itu selalu ada selama manusia hidup didunia ini sebagai ujian kita yang diberikan Allah SWT. Semua orang tau masalah memang harus dihadapi, tapi terkadang ada yang belum tau bagaimana menghadapi stress yang diakibatkan beratnya beban masalah yang datang.
Stress jangan dihindari, tapi alihkan saja sejenak pemikiran dari permasalahan yang ada. Bukan bermaksud lari dari permasalahan, tetapi mencoba mengistirahatkan otak dan badan dari tekanan psikologis. Lakukan apa yang kau suka dengan orang yang kau cintai, sayang, dan kau kasihi. Kau bisa berdoa kepada Allah, teman, pacar, saudara/i, orang tua, dan orang kepercayaan anda.

Ceritakanlah semua yang kau pikirkan, keluh kesahmu, karena semua orang perlu didengar ketika mereka terlibar suatu masalah. Perlu ada yang mengerti bagaimana dan apa yang terjadi padamu. Namun bukan berarti kamu menjadi egois yang tidak mau mengerti bahwa orang lain pun ingin dimengerti. Oleh karena itu, jika tidak tepat waktu dan kondisi untuk bercerita, lebih baik disimpan dulu.

Lets Loving

Postingan kali ini saya ingin menulis tentang seseorang yang saya cinta. Walau memang membosankan tulisan tentang cinta dan cinta lagi karen... thumbnail 1 summary
Postingan kali ini saya ingin menulis tentang seseorang yang saya cinta. Walau memang membosankan tulisan tentang cinta dan cinta lagi karena memang sudah banyak cerita tentang cinta. Tapi kali ini memang berbeda, bukan ceritanya yang berbeda namun rasanya berbeda. Kalau bisa di analogikan "saya memakan cireng yang dibeli di pinggir jalan dan cireng buatan mama dirumah" yang berarti cireng dipinggir jalan enak dan menarik namun belum tentu sehat dan ternyata lebih enak dari cireng pinggir jalan.

Maaf untuk para pembaca jika analogi yang saya tulis ngga jelas dan ngga romantis... Tapi hubungan percintaan saya kali ini tidak seperti itu, kali ini jelas dan agak romantis.

Romantis memang tidak bisa diukur dan seperti apa yang harus dilakukan semua tergantung perasaan dan selera orang tersebut terhadap romantis. Tapi menurut saya romantis itu kerelaan waktu dan tenaga untuk menjemput Fanissa Fionadia di bandara setelah terbang dari Surabaya ke bandara Soekarno - Hatta.

Saya berangkat dengan menggunakan jasa travel dari Cilegon langsung ke Bandara. Di mobil travel kami hanya bertiga, Pak Ahmad (supir 35), Fendy (30) dan saya (23) ( sebagai penumpang). Dalam perjalanan kita bertiga berkenalan dan mengobrol. Ada yang menarik dari obrolan kita di sepanjang perjalanan dari tangerang sampai bandara.

Percakapan saya dengan mas Fendy
Mas Fendy : "Mas Yuda, mau jemput siapa mas ??
Saya           : Jemput temen mas,
Mas Fendy  : Cewe apa cowo ?
Saya           : Cewe mas
Mas Fendy : Pacarmu mungkin??
Saya           : Yaaa,,, bisa dibilang gitu 
Mas Fendy  : Waahh,, ini nih namanya laki2 setia, ya ngga Pak Ahmad?
Pak Ahmad : "diem aja".
Mas Fendy  : Mas Yud, punya pacar berapa?
Saya            : hahaha... (becanda ni orang)
Mas Fendy  : Loh, ko ketawa mas, pacar tuh harus banyak Mas Yuda, kan masih muda juga biar ngerasain gimana rasanya punya banyak pacar, jangan pas udah nikah malah banyak pacarnya.
Saya            : Hahahaha... itu persepsi yang salah mas, gimana kalo gini "dari masih muda nyoba untuk setia jadi pas nikah ngga kebiasaan punya pacar lagi".
Pak Ahmad  : Wah,, bener itu..
Mas Fendy  : Iya juga sih,,
Saya            : dalem hati : "hahaha... kena ni orang"

Yupz,,, paradigma punya pacar banyak selalu salah jika dilihat dari segi manapun. Memang benar jika kita harus selektif dalam memilih pasangan hidup kita nanti, namun jika seperti itu akan membuat pacar kita sakit. Itu juga menunjukkan bahwa seseorang yang mempunya banyak pacar adalah orang yang plin plan. Untuk mencari pasangan yang tepat, kita harus tanya kepada diri sendiri apakah kita memang mencintainya atau tidak.

Ada pepatah mengatakan "apa yang kita beri, itulah yang kita terima". Jika punya pacar banyak, kita tidak mungkin bisa memberi cinta dengan sepenuh hati, dan kita juga tidak akan mendapatkan cinta yang sepenuh hati.

Apakah dia yang selalu kita tunggu kedatangannya ketika ia tidak disamping kita, apakah kita sedih jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, apakah kita rela membiarkannya disakiti orang lain, apakah dia yang mampu membuat hari-hari kita menjadi pelangi di setiap detiknya. Yeaaa,, I Feel it now ... :) Who is She??


Biar saya deskripsiin dia yah :)
Fisik :
- Sipit (-,-) >_<      emoticon ga cukup menggambarkan sipitnya dia,,hahaha... :p
- Tinggi, kita sama tingginya, tp kalo pake high heels tinggian dia deh. Tp gw suka cewe tinggi :)
- Brown, kaya cemilan favorit dia, coklat  :)
- Good hair, tebel ngga keriting, I love it :)
- Very sexy lips :*
- bohay donk pasti,
- Mancung (hak gw diambil ma dia, jd gw pesek)

Karakter :
- Kalo kalian pertama kali ngeliat dia, kesan pertama yang kalian terima adalah "dewasa banget yah". Dan mencerminkan pribadi yang ngga bisa dilecehkan, alias high class tapi keliatan terlalu formal untuk anak muda.  Setidaknya itu kesan pertama gw liat dia :)
- Menilai buku jangan dilihat dari covernya saja, alias kesan pertama gw ga semuanya bener. Kalo tentang dewasa emang bener sifatnya dewasa banget, ngga letoy dalam bertindak, berpikiran logis, n punya spirit dalam hidup :).
- Bisa diajak gila2an,, seneng traveling, cuma kaga suka olahraga sih doi, padahal olahraga itu menyenangkan :)
- Ekspresif banget, nah ini yang paling gw suka. Dia ngga suka ya pasti dia bilang, ngga merungkut nyempil dikolong meja kaya cewe laen,, hahaha dia juga ngga malu buat bilang Love, Need, Miss. karena ada beberapa orang sulit mengatakan hal itu.
- Kadang takut sama gelap n pepohonan,, don't worry sweetheart, am with u :)
- Udah deh kaya'a, kita cuma terkendala jarak aja :). Ngga fatal tapi terkadang itu jadi masalah juga.

Ada beberapa hal yang bikin gw surprise sama karakter dia yang ngga bisa dijelasin disini. Cukup sudah pencarian gw untuk cinta, ya karna udah pas sama yang sekarang.

Jangan Percaya "Boss" Anda

Gue kerja di perusahaan distributor farmasi ternama di Indonesia. Sekitar 40% obat yang dijual di Apotek di Kota gue, sumbernya dari perusa... thumbnail 1 summary
Gue kerja di perusahaan distributor farmasi ternama di Indonesia. Sekitar 40% obat yang dijual di Apotek di Kota gue, sumbernya dari perusahaan gue. Kisah gue ini udah mirip orang yang lagi hamil. Udah sembilan bulan "Keluar" deh. Bedanya, kalo ibu hamil yang keluar itu bayi, nah kalo gue surat cinta dari perusahaan. Sompret bener.

Cerita berawal dari pihak Perusahaan pembuat obat (Kami sebut principal), pihak yang menjadi partner perusahaan untuk bisnis Farmasi. MedRep (Medical Representative / Sales) principal mendapat order dari dokter apakah bisa memesan obat tanpa melalui Apoteker, karena Dokter tidak bisa memesan obat langsung tanpa melalui Apoteker. 

Si MedRep (M) bilang ke Kacab (K) & Gue (G) Salesman(S):
M : "Boss, bisa bukain order untuk "Rs. Z" ngga? Ini Buat Dokter "G" Soal Pembayaran, 3 hari langsung Bayar".
K : "Loh, dr. G kan bukan praktek di Rs Z tapi di Rs L..!!"
M : "Iya, Dr G pesen langsung ke saya. Bisa bukain ngga?"
K : "Ngga bisa, kalo mau langsung bayar COD".
G : "Ya COD juga ngga bisa Pak, masalah SP(Surat Pesanan) asli & Pajak gimana?"
M : "Bro S, gimana nih. Salesnya lumayan nih" (Ngomporin Sales)
S : "Lu tanya aja sama yg input, Mau input ngga?"
G : "Ya ngga mau lah, ntar masalah. Ni SP juga palsu"
M : "Wih boss K, bantu dong. Biar Nyampe target nih dikit lagi"
K : "Udah gini aja, kamu input aja G, S juga udah tau dan saya sama M yang bertanggung jawab. Banyak Saksinya."

Singkat cerita, keesokan harinya barang dikirim. Kebetulan, AM (Area Manager) red: jabatan diatas Kacab dateng ke kantor. Pas pengirim barang dateng, disambut sama si M dengan suara lantang minta barang diturunin disitu. 

Padahal SOPnya, tidak boleh ada barang yang diturunkan tidak sesuai alamat Outlet yang memesan. Dengan polosnya M mengambil barang fiktif tersebut didepan AM. AM pun nanya dan sudah terbaca apa yang terjadi setelahnya. Dia ngamuk, langsung nyebut "Kamu saya SP" Red: Surat Peringatan, sambil mengomel ke Pengirim barang. 

Setelah itu, saya dipertanyakan dimana SP asli dari outlet. Karena memang fiktif, saya jelas tidak punya.

AM : "Kenapa kamu input padahal disini tidak ada stempel asli dari Outlet"
G    : "Mohon maaf sebelumnya, saya input berdasarkan rekomendasi dari M dan telah disetujui oleh pak K."
AM : "Betul K? kamu yang merilis orderan fiktif ini?"
K   : "Awalnya iya, tapi saya bilang tidak boleh karena SP aslinya belum ada"
G   : "Loh, kan Pak K sendiri yang bilang ini di ACC dan mau bertanggung jawab atas segala resiko"
K   : "Iya, saya sudah sampaikan ke MedRep tidak boleh diinput karena SP aslinya tidak ada"
G   : "Ngga ada pemberitahuan apa-apa ke saya Pak"
AM : "Ok, Kita bicarakan ini nanti setelah Sales pulang, sore nanti"


Setelah Sales pulang, kami disidang. Fakta bahwa MedRep tidak ikut dilibatkan karena dia adalah pihak perusahaan rekanan. Sebelum menanyakan ke pihak luar AM ingin mendapat penjelasan dari pihak dalam.

AM : "S, coba jelaskan dari sisi kamu, kenapa ada orderan fiktif?"
S     : "Saya melakukan ini atas persetujuan K dan M pak."
AM : "Semua bilang dari kamu K, coba jelasin."
K    : "Iya, saya sudah beritahu MedRep kalau orderan tersebut tidak bisa diproses, dan saya tidak tahu kalau SP tersebut tidak lengkap"
AM : "Ok, G dan S coba kamu bikin surat pernyataan kronologinya seperti apa, ttd diatas Materai, lalu kasih ke saya"
G & S : "Ok Pak"

Hari itu selesai tanpa omelan AM lagi. AM pun sudah pulang dari kunjungannya ke Cabang setelah pihak Principal / MedRep itu meminta maaf atas orderan fiktif dan mengaku bahwa mereka akan bertanggung jawab penuh terhadap sanksi apapun dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dua minggu setelah kejadian itu, tidak ada tanda-tanda surat cinta terbit dari lubuk hati perusahaan. Ternyata petaka terjadi di minggu ketiga, surat cinta muncul dan diberikan langsung oleh Bpk. AM. Saya mendapatkan SP 1, Pengirim barang 2 orang mendapat SP 2, dan S mendapat SP 3 dan yang mengagetkan kami, K tidak mendapat SP sama sekali yang justru dia yang ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Dia mengelak atas perbuatannya. Lucunya, AM percaya pada omongan K.

Protes sudah, bicara blak-bkan sudah dan tidak dipercaya. Saya belajar bahwa, jika atasan mengintruksikan hal diluar SOP, diabaikan saja dan jika memang terpaksa, harus ada bukti tertulis yang menyatakan bahwa dia yang bertanggung jawab.

Don't Trust Your "Boss"

Selasa, November 17, 2015

Mengeluhkan Keluhan dan Membuat Tulisan Tentang Keluhan

Sebagai manusia biasa, keluhan bukanlah sesuatu yang luar biasa, sangat wajar mengeluh karena memang itu hal yang mudah dilakukan oleh kita... thumbnail 1 summary
Sebagai manusia biasa, keluhan bukanlah sesuatu yang luar biasa, sangat wajar mengeluh karena memang itu hal yang mudah dilakukan oleh kita yang merasa ngga bisa melakukan apa-apa. Contohnya :


X : "Eh bro, masa tanggal segini duit gajian udah abis, nyari sampingan kemana lagi yah."


G : "Jadi reseller aja bro, beli baju di Mangga dua, lu jual lagi disini, kan lumayan tuh selisihnya"
X : "Duit darimana Brooo... kalo kolor gue laku gue jual dah"
G : "Kolor lu emang ga bakal laku kalo dijual, tapi kalo isinya bisa lu sewain...hahaha"

Keluhan diatas memang biasa terjadi di kehidupan ini, ngga mustahil untuk orang kaya macemnya Bill Gate, siapa tau doi mau merambah bisnis "Pecel Lele". Misal :

B : "Bro, gue udah tajir begini. Gue udah paham ampe nano chip. Cuma gue kepikiran gimana bisnis pecel lele bisa enak gitu yah, perlu dikasih RAM brp Giga tuh yah?"
G : "Wah, iya juga. Ngga kepikiran sampe sejauh itu sih, tapi lu harus cek kepala ikannya, takut ada kandungan Paracetamolnya."

Siapa Yang tau ???

So, what's the problem man? 

Masalahnya kalo emang keluhan itu terus menerus kita dengar, ngga enak juga kan yah. Sebaiknya keluhan itu kita konversi aja jadi humor. Berapa banyak di medsos yang isinya pada ngeluh? dibanding bicara solusi dari keluhan dia Obral itu.

Banyak yang bicara tentang kebebasan berpendapat, Indonesia Demokratis itu ya jelas mengusung kebebasan berpendapat warganya. Hanya saja, kebebasan tersebut banyak diartikan sebagai kebebasan berbicara apapun, termasuk bicara kotor dan saling menghina.

Jika saya perhatikan, mereka yang menghina seseorang atau lembaga di medsos adalah orang yang tidak terlibat dalam hal yang mereka Hina dan Maki. Seorang tidak berpengaruh dan pengeluh itu tidak bisa meng"handle" prioritasnya. Ironisnya, yang mereka hina dan terlibat pada lembaga tertentu tidak saling menghina dan memaki.

So, selanjutnya apa? Ngga ada.

Quote Today : "Sulit Untuk Tidak Mengeluh Saat Melihat Orang Lain Berbicara Penuh Keluhan Karena Tulisan Ini Pun Keluhan".

Yang membedakan? (Mari kita doakan mereka supaya tidak terjadi hal yang buruk dari apa yang mereka ucapkan)