Yuda Pernanda

Rabu, Februari 06, 2013

Idealisme di dalam Harapan

“Melihat orang lain berbahagia lebih menyenangkan dibanding menyenangkan diri sendiri dengan menceritakan kepedihanmu kepada orang lain” ... thumbnail 1 summary

“Melihat orang lain berbahagia lebih menyenangkan dibanding menyenangkan diri sendiri dengan menceritakan kepedihanmu kepada orang lain”
Buatku melihat teman-temanku tertawa adalah seperti tubuh yang membutuhkan nutrisi gizi untuk membuatnya bertahan dari penyakit. Aku tidak peduli seberapa pelik dan rumit masalah yang mereka hadapi, namun aku bersedia untuk membantu mereka walaupun yang ku bisa hanya mendengarkan. Pertengakaran orang tua, diskusi politik, menceritakan tentang masa depan, hingga carita pribadi ketika mereka mulai bersenggama bersama pasangannya menjadi hal yang menarik bagiku. Beberapa orang melecehkan aku karena menurut mereka aku hanya dijadikan pemanfaatan saja, tak kudengar, aku abaikan. Aku tidak bisa membawa kepedihanku kehadapan mereka karena dengan mereka tertawa kepedihan hidupku juga akan sirna. Statusku memang mahasiwa single, namun kuanggap gelak tawa mereka adalah pacarku.
Sore yang lelah setelah selesai mata kuliah terakhir, Panji temanku mengajakku pergi menjenguk Ina yang tengah hamil, dia membawa tiga orang temannya, dua wanita dan satu pria. Aku berusaha menolak karena ku tahu dari dua wanita itu adalah Ari mantan pacarku dulu. Kubayangkan suasana yang kaku dan menjadi bahan ejekan karena kami berdua sudah lama tidak bertemu. Kami berpisah karena jarak dan komunikasi, memang pada saat itu tidak ada kata putus namun pemikiran anak sekolah dasar adalah ketika pasangannya pergi keluar kota adalah perpisahan. Namun tetap kuputuskan untuk ikut menjenguk, tidak bijak jika karena hal sepele komunikasi dengan teman menjadi tidak baik.

Setibanya disana, seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya. Ulasan masa lalu memenuhi gelak tawa, hanya Nisa dan Andi yang tidak ikut tertawa, mereka memang tidak mengerti candaan dan hinaan kami karena mereka berasal dari sekolah dasar yang berbeda. Baru saat itulah aku kenal mereka berdua. Tak terasa, matahari telah lelah menyinari kota dan kami bersiap untuk pulang. Formasinya adalah Nisa dibonceng Panji, Ari dan Andi. Dua motor itu berjalan di depanku, terlihat mereka mengobrol dan tertawa, senang sekali melihatnya. Tetapi disisi lain, aku iri. Kapan kursi di belakangku ada yang mengisinya seperti mereka yang berbahagia itu. Hari itu ditutup dengan kesenangan, kepiluan dan harapan.

2 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

  2. Senang rasanya bisa berkunjung ke website anda" mudah-mudahan
    infonya bermanfaat Terimakasih sudah berbagi

    BalasHapus

Komen Disini yaah