Yuda Pernanda

Senin, Agustus 06, 2012

Jika bisa membuat sejuk, kenapa pilih panas??

Setelah membaca artikel di website VOA yang berjudul http://www.voaindonesia.com/content/ruang-hijau-rumah-bali-serap-154-ton-co2-per-hari/... thumbnail 1 summary
Setelah membaca artikel di website VOA yang berjudul http://www.voaindonesia.com/content/ruang-hijau-rumah-bali-serap-154-ton-co2-per-hari/1447689.html saya bangga dengan siswa SMU 3 Denpasar yang mengangkat betapa pentingnya fungsi Tebe (ruang hijau di belakang rumah yang biasanya ditanami jenis tanaman seperti pisang, ubi kayu, kelapa, dan berbagai jenis tanaman lainnya) bagi lingkungan perumahan di Bali sebagai penyerap gas buang karbon dioksida (CO2). Yang kita tahu bahwa gas tersebut memicu pemanasan global.

Sudah banyak gerakan menghentikan pemanasan global atau global warming dilakukan,  tema
"Save Our Earth"  
menjadi pembicaraan yang tak pernah habis dibahas baik di media elektronik dan media cetak. Aksi tersebut juga terus mendapat dukungan dari seluruh penjuru dunia. Pemberian penghargaan sudah diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa dalam menghentikan global warming. Lalu kenapa suhu semakin hari semakin panas? siapa yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini?

Sumber : google picture

Beberapa orang akan menjawab "KITA". Jawaban yang kadang digunakan untuk saling melempar tanggung jawab atas global warming yang terjadi di lingkungannya bahkan dunia ini. Padahal setiap individu mempunyai tanggung jawab masing-masing.

Emisi dari industri, kendaraan bermotor dan instalasi pembangkit listrik, gas gas rumah kaca menjadi "kambing hitam" yang menyebabkan pemanasan global. Di kehidupan modern seperti saat ini tidak bisa dibantah kalau kita memang membutuhkan hal-hal tersebut. Menghilangkan kebiasaan tersebut mungkin sangat sulit dilakukan, yang bisa dilakukan adalah menguranginya saja dan membuat energi alternatif pengganti. Sumber energi alternatif tersebut sedang dicari oleh para pakar energi. Kita sebagai pengguna hanya bisa menunggu dan melakukan apa saja yang sekiranya bisa membantu untuk menghentikan pemanasan global.

Dari artikel yang lain di website VOA yang berjudul PBB: Lebih dari 850 Juta Orang Masih Kelaparan ternyata disebabkan oleh pemanasan global dan yang mencengangkan adalah kutipan dari artikel tersebut "Perubahan iklim mengakibatkan kerusakan panen. Dan, menurut William Cline dari Center for Global Development, yang paling menderita akibat masalah ini, adalah negara-negara berkembang yang berada di dekat garis katulistiwa. “Potensi agrikultur global dapat menurun hingga 20 persen sebagai akibat pemanasan global bila tidak dapat diatasi pada tahun 2080-an. 

Indonesia yang dilewati garis katulistiwa tentu akan merasakan dampak langsung dari pemanasan global ini. Memang disitu dituliskan terjadi di tahun 2080, namun akibat yang ditimbulkan bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang dan anak cucu kita masih butuh dunia yang nyaman untuk ditinggali.

Ada banyak cara mengurangi pemanasan global, menanam pohon di pekarangan rumah adalah salah satunya, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi asap rokok, menghemat listrik di siang hari, dan masih banyak hal yang bisa kita lakukan.

Sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengurangi pemanasan global, saya sudah menanam pohon di halaman rumah dan tanaman kecil. Walaupun halaman rumah saya yang terletak di Cilegon - Banten tidak terlalu luas tetapi dampaknya sangat terasa, saya tidak perlu menggunakan pendingin udara atau sering disebut AC. Yang kita tahu AC juga outputnya adalah udara panas. Malas bukan menjadi alasan untuk membiarkan panas matahari mengurangi kualitas kehidupan saya dan konsekuensinya hanya membersihkan daun yang gugur.

Saya memang tidak tahu sebesar apa pengaruh pohon yang saya tanam untuk mengurangi pemanasan global. Tetapi setidaknya saya bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk mengurangi pemanasan global ini, walaupun ini bukan akhir dari tanggung jawab saya terhadap lingkungan. Seperti yang dikatakan Martin Luther King, Jr. : "Tugas saya adalah melakukan hal yang benar, selanjutnya di tangan Tuhan.".

Saya berharap dapat melakukan penanaman pohon di seluruh pinggir jalan yang ada di kota-kota Indonesia. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi takut kepanasan jika berjalan kaki atau menaiki sepeda. Jika hal itu menjadi tradisi, mungkin kemacetan karena kendaraan pribadi bisa di minimalisir.

So, kita sudah merasakan bumi ini makin panas. Fakta ruang hijau bisa mengurangi panasnya lingkungan bisa menjadi solusi untuk mengurangi polusi.

Well,, dengan mencintai hidup yang dimulai dari kehidupan diri sendiri yang dapat menguntungkan lingkungan, negara, barulah kita bisa mencintai dunia ini.

Jika bisa membuat sejuk, kenapa pilih panas??