Yuda Pernanda

Senin, Mei 09, 2011

Coba

Tamparan krisis moneter global yang dimulai di Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian di tiap negara sepertinya tidak mudah dihindari. ... thumbnail 1 summary
Tamparan krisis moneter global yang dimulai di Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian di tiap negara sepertinya
tidak mudah dihindari. Hal ini dicirikan adanya kekacauan atau krisis bursa saham, harga saham bertumbangan, investor
sangat panik, nilai tukar uang mata asing semakin turun, dan transaksi perdagangan internasional dan domestik cenderung
tersendat-sendat bahkan nyaris terhenti. Ada kecenderungan kondisi seperti ini juga terjadi di Indonesia. Lalu sejauh
mana upaya pelaku bisnis mampu mengatasi atau meminimumkan pengaruh krisis moneter global ini pada perusahaannya?


Penanganan krisis moneter tidak mungkin dilakukan individu per individu pelaku bisnis. Turbulensi moneter yang terjadi
tak mungkin bisa dikendalikan secara individual. Nah, disinilah setiap perusahaan baik berskala raksasa atau multinasional
sampai berskala menengah dan kecil akan diuji ketahanan bisnisnya. Seberapa jauh, misalnya, setiap perusahaan sudah
memiliki rencana strategis bisnisnya termasuk strategi SDMnya. Seberapa jauh tiap individu manajemen khususnya manajemen
puncak sudah melakukan eksperimen dalam menghadapi resiko terjadi guncangan-guncangan moneter dan ekonomi eksternal.
Seberapa jauh peran crisis center dalam memperkecil resiko adanya turbulensi tersebut? Seberapa jauh model interdependensi
antarbisnis masih mampu menjaga keselarasan kerjasamanya?




Tantangan yang dihadapi perusahaan saat kini adalah membuat kemajuan yang dibutuhkan tiap individu dan kelompok
untuk belajar tentang beragam dimensi pengetahuan, sikap, keterampilan dan teknik baru, dan menempatkan dalam proses yang
terkait dengan dorongan kerja dalam program suatu keberlanjutan pengembangan kemampuan berbisnis. Termasuk bagaimana
belajar menyusun suatu program bisnis yang futuristik. Dengan kata lain perusahaan khususnya berskala besar harus mampu
melakukan simulasi dari beragam skenario adanya turbulensi moneter dan ekonomi eksternal; sekaligus skenario cara-cara
mengatasinya.


Pada tataran mikro sumberdaya manusia diperlukan proses pembelajaran berkesinambungan. Belajar seharusnya diintegrasikan
kedalam suatu pekerjaan, sebagai bagian dan paket kerja harian. Itu juga harus didorong, distimulasi dan dibuat
menyenangkan. Belajar tidak harus selalu dalam bentuk pendidikan dan pelatihan terstruktur. Menciptakan budaya belajar
di kalangan karyawan dan manajemen menjadi sangat strategis. Budaya belajar juga mengandung makna bahwa setiap individu
manajemen dan non-manajemen harus selalu memiliki daya tanggap dan kepekaan tinggi terhadap setiap fenomena perekonomian
yang ada. Kalau itu dilakukan itulah namanya perusahaan sebagai organisasi pembelajaran. Suatu perusahaan yang tidak harus
kelimpungan dan panik berlebihan menghadapi setiap guncangan eksternal yang ada; seperti krisis moneter global sekarang ini.




Tulisan ini dan tulisan beliau yang lain dapat dilihat di: Rona Wajah

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Komen Disini yaah